courtesy of www.linkedin.com
Tidak ada lagi kata tidak mungkin. Semua cita-cita sangat memungkinkan untuk tercapai apabila kita memiliki keyakinan kuat. Dengan rasa yakin yang kuat, otomatis kerja keras harus mendampingi. Tanpa kedua hal ini, cita-cita yang umumnya sering diasosiasikan dengan mimpi, benar-benar akan menjadi mimpi, mimpi disiang bolong. Yang membedakan mimpi dengan cita-cita, mimpi diucapkan tanpa adanya usaha untuk mengejar impian itu, sedangkan cita-cita, bukan hanya mengikrarkannya dengan lancang tapi juga berusaha mati-matian untuk meraihnya.
 
Cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri misalnya. Ketika mengucapkan secara gamblang, diri sendiri pun terkadang tertawa mendengarnya, apalagi orang lain. Kita boleh mentertawakan cita-cita kita, tapi hanya sekali saja, setelah tawa itu usai, tanam cita-cita itu dalam-dalam dan selanjutnya adalah action.
 
Bagaimana action-nya? Perencanaan! Cita-cita tanpa rencana adalah nihil. Cara termudah untuk menyusun perencanaan adalah dengan memiliki REPLITA (Rencana Pendek Lima Tahun). Apa itu REPLITA? Replita adalah daftar cita-cita yang kamu miliki dalam kurun waktu lima tahun. Dengan menulis daftar cita-cita kita, otomatis telah ada niat untuk merealisasikannya. 

Sebagai contoh, si A bercita-cita untuk melanjutkan S2 di Australia. Mengingat pentingnya perencanaan, si A kemudian membuat daftar REPLITA-nya sebagai berikut:
1.      S2 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Monash Australia *

Setelah menuliskan REPLITA nomor 1, si A tidak mungkin hanya diam saja dong, berharap malaikat akan menyiapkan segalanya untuk A. Si A pun mem-follow up REPLITA nomor 1 ini. Berhubung si A adalah generasi millennial, dan telah teredukasi secara teknologi, si A pun kemudian melakukan riset tentang cara masuk universitas Monash. Si A menghabiskan waktu mengotak-atik website Universitas Monash dan akhirnya si A memiliki ide lebih mendalam tentang cara lulus di Univeristas Monash. Bukan hanya itu, melalui website Univesitas Monah, si A mendapatkan informasi bahwa mahasiswa asing bisa kuliah di Monash secara gratis dengan mendaftarkan beasiswa AAS atau Australia Awards. Riset ini otomatis menambah daftar REPLITA si A sebagai berikut:

2.      Lulus Beasiswa AAS

3.      IELTS 6.5 

4.      Menyiapkan Reference Letter 

5.      dst 

Didalam prosesnya, biasanya akan banyak sekali orang yang meragukanmu, menyinyir cita-citamu, namun itu adalah bagian dari proses. Ketika kamu mampu melewatinya, kamu telah selangakah mendekat dengan keberhasilanmu. 

Dan yang terpenting, proses menuju keberhasilan tidaklah mudah. Jangan pernah berharap segalanya akan berjalan dengan mulus. Akan ada batu krikil yang membuatmu terjatuh, namun yang terpenting bukanlah cerita bagiamana kamu terjatuh, tapi bagaimana kamu bisa bangkit dari jatuh itu.
Tidak ada yang tidak mungkin. Sekalipun kita berasal dari desa terpencil ditengah perkebukan kopi di Dataran Tinggi Gayo, kita semua memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang berasal dari kota besar. Hanya saja kita harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras dari mereka.
Mulai dari belajar bahasa Inggris. Tidak ada lagi alasan bahwa kita tidak mendapatkan pendidikan bahasa Inggris yang mumpuni disekolah. Sekarang kita hidup diera digital. Bahasa Inggris dapat dengan mudah dipelajari dengan mangakses internet. Kalau kamu bisa mengakses youtube, whatsapp, instagram, facebook dan lain-lainnya, artinya kamu bisa belajar bahasa Inggris.
Selanjutnya yang sering menjadi alasan kita adalah tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai beasiswa-beasiswa yang ada. Kembali lagi, kita hidup diera digital. Informasi tentang beasiswa banyak sekali tersebar diinternet. Cukup menulis keyword “beasiswa S2” di google, semua jenis beasiswa langsung bermunculan. 

Selain itu, forum-forum seperti FCA adalah solusi selanjutnya. FCA sendiri adalah jawaban dari kegalauanmu. Menyadari kurangnya edukasi dalam penggunaan teknologi di daerah kita Bener Meriah, Aceh Tengah dan lain-lainnya, FCA hadir untuk dasar itu. FCA ingin mengajak teman-taman di daerah untuk semakin sadar akan pentingnya penggunaan teknologi secara optimal. Dalam artinya teknologi digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi penting seperti informasi beasiswa, informasi tentang pendidikan dan pusat inspirasi. Internet ada bukan hanya untuk mengakses facebook, twitter, instagram dan sebagainya. Fungsi internet labih dari itu. Oleh karena itu, mari mendukung forum FCA untuk mendapatkan fungsi teknologi yang optimal dalam bidang pendidikan dan reset.

Sekali lagi, tidak ada yang tidak mungkin!

Ditulis untuk Forum Educasi Daearah Bener Meriah. Link: http://fcabenermeriah.com/2017/12/11/tidak-ada-yang-tidak-mungkin/
Moda transportasi baru berwarna biru langit membawaku mengelilingi sudut Jakarta. Berawal dari Lebak Bulus, transit di Harmoni, hingga akhirnya menapakkan kaki didepan sang landmark negeri ini – Monumen Nasional (Monas). Dalam perjalanan, ku termenung, menyaksikan drama kehidupan yang tiada habisnya menarik perhatianku.

Dimulai dari gerak-gerik manusia dalam gerbong bus. Setiap orang begitu erat merangkul bawaannya. Seolah mereka takut akan dicopet atau dirampok. “Ada apa?,” tanyaku. “Tak ada kah lagi rasa percaya dalam negeri ini? Bahkan didalam moda transportasi yang dipenuhi kamera pengaman, orang-orang tidak juga merasa aman? Sangat ironis.”

Lalu mataku ditarik oleh pemandangan lainnya. Kota yang ditumbuhi oleh hutan beton, bukti kemajuan suatu negeri. Namun miris, selain hutan-hutan beton itu, Jakarta juga di penuhi oleh semak-semak kabel. Segala jenis kabel. Kabel telepon, kabel internet, dan kabel-kabel lainnya. Apa bedanya Jakarta dengan hutan belantara? Hanya beda format saja. Hutan belantara dipenuhi oleh pohon-pohon rindang dan semak tak beraturan. Jakarta? Jakarta dipenuhi oleh hutan beton dan kabel yang tidak beraturan. Selain itu, hutan beton, yang seyogyanya adalah bukti kemajuan sebuah bangsa, disini hutan beton adalah bukti kesenjangan sosial. Lihatlah, disamping gedung yang indah itu ada hamparan rumah-rumah yang tidak layak disebut rumah. Tapi, kekumuhan.

Belum juga selesai dengan lamunanku, suara bising sudah lebih dulu mendominasi kesadaranku. Orang-orang beramai-ramai menggerutu. Satu mobil berukuran besar, muatan 7 orang, namun hanya diisi oleh hanya satu orang, melaju ditengah keramaian. Dan tanpa sadar, atau penuh kesadaran, kendaraan itu berhenti ditengah jalan dalam keadaan rambu-rambu yang hijau. Otomatis semua kendaraan dibelakangnya mengklakson dan terjadilah kegaduhan. Usut punya usut, ternyata pengendara mobil tersebut adalah seorang wanita muda yang asyik dengan gadgetnya. Dan saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, dia masih asyik dengan gadgetnya. Terjadinya kemacetan panjang. Saat sipengendara melaju, lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah lagi. Dan orang-orang pun tanpa pikir panjang berteriak meluapkan kekesalannya.

Ini hanya satu dari sekian banyak drama kehidupan yang terpancar di Jakarta. Macet, perumahan kumuh, polusi, manusia yang tidak saling percaya, dunia kerja yang sangat menuntut kerja keras namun tidak memberikan hal yang sebaliknya.
Hasilnya, orang-orang Jakarta berubah!

Dulu, Jakarta terkenal dengan manusia-manusianya yang tak kenal lelah. Dalam kerasnya kehidupan yang mereka lalui, ada satu hal yang tidak pernah sirna dari mereka – senyum dan tawa. Kini senyum dan tawa itu sudah mulai luntur. Yang tersisa adalah manusia-manusia yang mengutuk realitas kehidupan. Bukannya senyum hangat, yang terpancar dari wajah-wajah penghuni Jakarta adalah aura dingin - satu hal yang menyatukan Jakarta dengan ibu kota – ibu kota Negara lainnya.

Ini membawaku kepada guyonan yang selama ini tersebar di masyarakat, “sekejam-kejamnya ibu tiri, Ibu kota lebih kejam.” Guyonan atau sebuah realitas?

Jakarta dengan jumlah penduduk yang melebihi angka 9600 juta jiwa, sebuah angka yang tidak ideal untuk sebuah kota yang miskin menejmen. Infrasturktur, tata kota, transportasi dan lain-lainnya. Semuanya masih tidak mumpuni. Dan dengan semua kondisi ini, orang-orang dari luar pulau masih saja ingin berbondon-bondon ke Jakarta. Demi apa? Demi sebuah kesempatan. Jakarta bisa saja luluh lantah, namun dalam keluluh lantahannya Jakarta masih menawarkan kesempatan. Sedangkan daerah, dalam kedamaiannya, dalam keasriannya, tidak menawarkan banyak kesempatan. Semuanya jelas. Tidak ada kejutan. Dan mereka ke Jakarta demi kejutan itu.

Orang-orang dari daerah yang haus akan kejutan, sampai di Jakarta akan terkejut dengan seterkejut-kejutnya. Sampai-sampai mereka kencing dan mencret dicelana – saking terkejutnya.  Mereka terkejut dengan kejamnya hidup di Jakarta. Mereka terkejut karena fantasi mereka tentang Jakarta tidak sesuai dengan realita. Mereka terkejut dengan dinginnya warga Jakarta. Mereka terkejut karena Jakarta tidak menyambut kehadiran mereka dengan senyum hangat, malah aura dingin. Mereka terkejut dan pingsan sesaat. Esok harinya mereka menjadi bagian dari Jakarta yang kejam, dingin dan muram.




Empat hari sebelum keberangkatan saya ke Indonesia, saya memutuskan untuk berkunjung ke kota Bursa. Biarlah ini menjadi momen jalan-jalan saya terakhir di Turki sebelum pulang ke Indonesia secara permanen, kata saya pada diri saya sendiri. Selain itu saya juga ingin menepati janji saya kepada Farabi, teman seangkatan saya, untuk berkunjung ke tempatnya.

Pendapat saya tentang Bursa.

Jujur, Bursa yang saya kunjungi tidak memenuhi ekspektasi yang selama ini saya punya. Selama ini saya berekspektasi bahwa kota Bursa akan lebih besar dan lebih metropolitan dari kota Izmir. Tapi ternyata setelah mengunjungi Bursa, di mata saya kota Bursa masih kurang besar dibanding kota Izmir. Dan alhasil, saya masih menganggap bahwa kota Izmir adalah kota terbaik di Turki. No offense buat para Bursali. 


Bursa: Kota Religi dan Perdagangan
Sejarahnya, kota Bursa adalah salah satu kota yang dilalui oleh jalur Sutra. Saat ini pun Bursa masih terkenal dengan produksi kain sutranya. Paling banyak adalah produk-produk sal dan esraf (jilbab) yang berbahan sutra. Fakta ini membuat turis asal Malaysia dan Indonesia gemar berkunjung ke Bursa. Sampai-sampai, salah satu toko souvenir di puncak kota Bursa, tepatnya didekat Yesil Camii (Mesjid Hijau), dinamai dengan kalimat bahasa Indonesia: Rumah Sutra.

Selain itu, Bursa juga terkenal dengan hubungan karibnya dengan kerjaan Ottoman. Konon, dimasa Ottoman, Bursa adalah salah satu kota pertama yang ditaklukkan oleh kerajaan Ottoman. Karenanya, saat ini Bursa adalah makam bagi raja-raja pertama Ottoman seperti raja Usman sendiri. Letak makam raja Usman berada tepat dibelakang saat Kulesi kota Bursa.

Sisi positif dari hubungan dekat Bursa dan kerajaan Ottoman dapat dilihat dari banyaknya masjid-mesjid megah dan pusat-pusat perbelanjaan modern (dimasanya maupun saat ini) dipusat kota Bursa. Berbeda dengan gaya arsitektur masjid-mesjid yang ada di kota Istanbul, masjid-mesjid di kota Bursa masih dipengaruhi oleh gaya arsitektur kerajaan selcuk. Yang paling mencolok dari gaya arsitektur Selcuk yang adalah banyaknya kubah-kubah kecil nan banyak, seolah kubah-kubah kecil tersebut adalah permata dari bangunan tersebut. Sebaliknya, gaya arsitektur yang dicetuskan oleh Mimar Sinan di masa kerajaan Ottoman berikutnya lebih memperhatikan menara. Walaupun begitu, kubahnya juga sangat khas. Ini dapat dilihat pada gaya arsitektural masjid Biru Istanbul dan lain-lain.

Uniknya, letak masjid-mesjid di kota Bursa sangat berdekatan dengan pasar. Hal ini mengingatkan saya pada surat Al-jumu’ah yang mengatakan bahwa mencari nafkahlah kamu setelah shalat (terjemahan yang paling simple).

Disalah satu iklan video tentang kota Bursa saya menangkat kalimat ini. Bursa: Ticaret’le Ibadet. Ia, Bursa adalah salah satu kota pusat perdagangan dari sejak berdirinya bursa. Tapi hingga saat ini, Bursa juga berhasil untuk menjaga kekhasannya untuk menjadi kota Ibadah.

Didepan Ulu Cami kota Bursa, tepatnya dipapan informasi, dikatakan bahwa dimasa lalu Ulu Cami pernah dianggap menjadi pusat suci ke tiga didunia setelah Haji, Palestina, dan Ulu Cami. Wallahu a’lam.